Site icon BANTEN AKTUAL

Bahasa Sebagai Pemersatu Budaya

Ninik Kurnia Asih (Mahasiswa Tingkat 1 Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Faletehan)

Bantenaktual.com, – Bahasa merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sejak dilahirkan, manusia diperkenalkan kepada beragam bahasa yang berbeda.

Manusia berkomunikasi satu sama lain dengan menggunakan bahasa untuk menyampaikan ide, gagasan, perasaan, dan pesan tertentu kepada orang lain.

Bahasa juga merupakan salah satu unsur budaya yang memiliki hubungan erat dan tak terpisahkan dengan kehidupan manusia karena bahasa merupakan produk budaya dari suatu bangsa. Bahkan melalui bahasa, kita dapat mempelajari dan memahami budaya orang lain.

Indonesia memiliki beragam bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budayanya. Namun, saat ini popularitas bahasa daerah di kalangan generasi muda semakin menurun.

Hal ini dikarenakan penggunaan bahasa Indonesia lebih memudahkan mereka untuk berkomunikasi dengan teman sebayanya yang berasal dari latar belakang suku yang berbeda.

Terkikisnya penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi milenial juga tidak terlepas dari pengaruh perkembangan globalisasi.

Di mana bahasa Inggris ditetapkan sebagai salah satu bahasa internasional, karena jumlah penuturnya yang banyak dan hampir seluruh negara di dunia mempelajarinya serta menggunakannya untuk menjalin hubungan antarnegara.

Sehingga generasi milenial lebih tertarik untuk mempelajari dan menggunakan bahasa asing daripada mempelajari dan menggunakan bahasa daerah sendiri.

Di samping itu, tak jarang pula anak muda yang merasa gengsi dan malu untuk berbicara dengan menggunakan bahasa daerah di hadapan forum karena mereka beranggapan bahwa bahasa daerah tidak keren dan ketinggalan zaman.

Belum lagi perbedaan dialek yang sering kali menjadi bahan lelucon karena kurangnya dasar pengetahuan tentang ragam bahasa daerah.

Melihat kondisi tersebut, para pemerhati bahasa dan budaya hendaknya melakukan aksi nyata dalam upaya pelestarian penggunaan bahasa daerah.

Salah satu aksi nyata yang dapat dilakukan ialah dengan mendorong peran orang tua dalam mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anaknya sejak dini.

Hal ini dirasa sangat penting karena di sekolah, mata pelajaran bahasa daerah hanya diberikan sekali dalam seminggu, dan mata pelajaran lainnya menggunakan bahasa Indonesia (kecuali mata pelajaran bahasa asing).

Upaya lain yang dapat dilakukan ialah mendorong gerakan berbahasa daerah. Saat ini di wilayah Banten, khususnya di daerah Pontang, Kabupaten Serang, mulai bermunculan YouTuber generasi Z yang membuat film pendek atau sekedar membuat konten daily vlog dengan menggunakan bahasa Jawa Serang atau Bebasan.

Mereka melakukan itu sambil memperlihatkan kekayaan alam dan budayanya. Tentu saja hal ini dapat membawa pengaruh positif pada perkembangan penggunaan bahasa daerah.

Di samping itu, beberapa daerah di Banten dan Cirebon sudah mulai menetapkan kurikulum Bahasa Jawa Banten sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah yang notabene berbahasa Jawa Serang dengan muatan maca dan dongeng.

Sebelumnya disamaratakan dengan mata pelajaran bahasa Sunda saja. Hal ini tentu akan memudahkan siswa untuk lebih mengenali dan memahami bahasa daerahnya.

Berdasarkan pemaparan di atas, tulisan ini berusaha untuk menunjukkan bahwa dengan berbahasa kita akan mengenali suatu budaya.

Namun, gempuran persaingan global mencerminkan kekhawatiran anak bangsa sehingga mereka lebih tertarik untuk mempelajari bahasa asing dengan mengesampingkan pelestarian bahasa daerah.

Dampaknya, saat ini penutur bahasa daerah dari kalangan muda sangat terbatas. Jika dilihat lebih dekat, kurangnya penutur dari kalangan pemuda sebenarnya bisa ditangani dimulai dari rumah, sekolah, hingga lingkungan sekitar yang lebih luas. (Red)

Exit mobile version