Site icon BANTEN AKTUAL

Pendidikan Seks dan Pandangan Keliru Orang Tua Terhadapnya

Bantenaktual.com, – Anak merupakan anugerah sekaligus titipan Tuhan untuk dijaga. Pendidikan seks sejak dini sangatlah penting untuk diberikan kepada para remaja, bahkan sejak masih kanak-kanak.

Menurut artikel Meli Safira, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Faletehan, anak-anak dan remaja rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks. Tujuan penulisan ini, diharapkan melalui pendidikan seks, orang tua dapat memberikan informasi yang sepatutnya sesuai kebutuhan dan umur anak.

Selain itu, dengan pendidikan seks anak juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya.

Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yaitu studi literature, dengan menggali berbagai informasi berkenaan dengan pendidikan seks pada remaja, maka diperoleh hasil, pertama: pendidikan seks harus dianggap sebagai bagian dari proses pendidikan untuk memperkuat pengembangan kepribadian.

Kedua, orangtua memiliki peran penting untuk menanggulanggi perilaku seks yang menyimpang dengan cara orangtua mengajarkan pendidikan seks secara langsung dan kontinyu pada anak sedini mungkin di dalam keluarga sesuai norma-norma masyarakat setempat agar remaja menerima seksualitasnya yang adalah bagian integral kehidupannnya dengan penuh tanggung jawab.

Di zaman sekarang para orang tua sudah semakin sadar bahwa pentingya untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak mereka. Namun pendidikan seks seakan luput dari perhatian, baik oleh orang tua, sekolah.

Tidak adanya perhatian terhadap pendidikan seks bagi remaja memungkinkan adanya anggapan bahwa membicarakan seks adalah hal yang tabu bahkan yang paling ekstrim adalah berpendapat bahwa hal tersebut mendorong anak remaja untuk melakukan hubungan seks.

Sebagian besar masyarakat masih memiliki paradigma pendidikan seks adalah sesuatu yang vulgar dan sepatutnya remaja harus belajar dari lingkungannya.

Pandangan masyarakat pada umumnya ini ditegaskan oleh Abineno, bahwa rata-rata orang tua membicarakan seks dan seksualitas adalah sesuatu pemahaman yang baru.

Hampir semua orang tua di Indonesia tidak pernah mendapatkan pendidikan seksual. Bahkan mereka juga tidak pernah membaca sesuatu yang berindikasi mengenai pendidikan seksual. Mereka “buta huruf” di bidang seks dan seksualitas.

Tugas ini tidak bisa diwakilkan kepada orang lain kecuali orang tua harus mengambil tanggung jawab untuk berperan mengajarkan pendidikan seks terhadap anak-anaknya.

Bila pendidikan seks tidak diajarkan sedini mungkin pada anak-anak, maka besar kemungkinan akan terjadi pergaulan bebas, seks bebas, pemerkosaan, sodomi, hamil di luar nikah, aborsi, hidup bersama di luar nikah, dan pelanggaran-pelangaran nilai-nilai moral lainnya.

Menyikapi pelanggaran norma-norma susila pada kalangan remaja tersebut, tidak dapat sepenuhnya itu menjadi tanggung jawab remaja tersebut. Mengingat peran orang tualah sesungguhnya meminimalkan pelanggaran tersebut.

Di sisi lain ada sebuah dilema bagi orang tua khususnya yang masih terikat dengan budaya Timur karena membicarakan masalah seksualitas adalah sesuatu yang tabu dan tertutup. Oleh sebab itu, sudah saatnya orangtua menyadari perannya untuk memberikan pendidikan seks bagi anak-anaknya.

Diharapkan melalui pemberian pendidikan seks sejak dini, dapat mencegah perilaku seks bebas ketika anak menginjak remaja atau pubertas. (Red)

Exit mobile version