Bantenaktual.com, Cilegon – Semua bermula pada kata ‘di balik laki-laki hebat, ada perempuan hebat di belakangnya’. Aku sangat setuju dengan istilah itu. Dan kali ini soal perempuan-perempuan hebat pengepul minyak jelantah.
Aku yang awalnya hanya punya semangat mengumpulkan minyak jelantah ragu ikut berkompetisi dalam pengumpulan salah satu limbah rumahan yang digelar PT Chandra Asri Petrochemical. Terhitung hingga 15 Mei 2025 lalu, aku hanya bisa mengumpulkan tiga botol air mineral kemasan 1,5 liter di rumah.
Itupun, hasil sisa masakan istri di rumah yang diam-diam ku kemas dalam tiga botol air mineral itu. Hingga tiba pada momen Senin 16 Mei 2025 sore sekira pukul 16.00 WIB, dalam duduk diam terdengar jelas tiga hingga lima orang membicarakan soal pengumpulan minyak jelantah dalam rangka kompetisi yang digelar PT Chandra Asri Petrochemical itu.
Tak banyak kata yang kuucapkan kala itu, aku hanya melemparkan senyum tipis sambil sesekali menimpali sambil berkelakar mengejek rekan yang paling banyak mengumpulkan jelantah.
Kudengar sangat jelas, saat itu sudah ada yang berhasil mengumpulkan 50 kg minyak jelantah. Sementara beberapa pihak lainnya tampak pesimis, melihat progres pengumpulan yang sudah sampai puluhan kg minyak itu.
Serupa denganku yang baru mengumpulkan 4,5 liter minyak jelantah, bahkan belum kusetorkan sama sekali. Namun, sore itu juga aku menceritakan kepada kakak perempuanku soal kompetisi tersebut.
Bak melihat cahaya terang di tengah gua yang gelap gulita, kakakku menyebut di tempat tinggalnya terkumpul 38 liter minyak jelantah. Dan artinya, hanya terpaut 7,5 liter dari pengumpulan minyak tertinggi yang telah mengumpulkan minyak 50 liter.
Usai mendapat kabar tersebut, aku langsung terpikir membicarakan hal sama kepada makmumku di rumah. Aku memintanya membantu mengumpulkan minyak jelantah. Hal serupa juga terjadi saat aku meminta bantuan sang istri.
Hingga pada 22 Mei 2025 istri dan kakak perempuanku berhasil mengumpulkan 70,25 kg. Tak berselang lama, istriku lewat bantuan kawannya yang tinggal di Kelurahan Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon berhasil mengumpulkan minyak jelantah sebanyak 57,15 kg pada 27 Mei 2025 lalu.
Dalam tengat waktu 6 hari, tepatnya pada 2 Juni 2025. Kakaku kemudian mengenalkanku pada temannya yang merupakan pengelola bank sampah di jalan Resik, Kelurahan Kramatwatu, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten.
‘Ummi’ begitu orang-orang sekitar memanggil perempuan pengepul plastik-plastik bekas botol kemasan minuman, termasuk minyak jelantah. Aku pun sangat terkejut melihat 5 jerigen putih ukuran 18 liter, 10 jerigen ukuran 5 liter, serta 4 galon lemineral yang berjejer terbaris rapih di bagian samping rumahnya.
Total sekira 194 kg minyak jelantah ku kumpulkan dari Ummi yang merupakan kenalan kakakku itu. Dengan begitu, hingga 2 Juni 2025 terkumpul sekira 320 kg minyak jelantah untuk kusetorkan mengikuti kompetisi tersebut.
Di tengah keyakinan mengumpulkan minyak jelantah terbanyak, aku tertampar dengan kenyataan yang memperlihatkan salah satu peserta berhasil mengumpulkan 600 kg minyak jelantah.
Selain peserta yang memperoleh minyak jelantah terbanyak, ada dua peserta lainnya yang juga mendapatkan kurang lebih 300 kg. Dari situ aku berusaha untuk mengumpulkan lebih banyak minyak lagi.
Mulai dari berkeliling mengunjungi tukang gorengan dan pecel lele untuk meminta mereka memberikan minyak jelantah kepadaku. Hingga mendatangi satu persatu cabang Labaik di Cilegon hingga ke Kramatwatu.
Namun, satu persatu juga penjual gorengan, tukang pecel lele hingga beberapa cabang Labaik menolak dan menyebut telah memberikan minyak jelantah kepada pihak yang telah rutin membeli dan mengambilnya.
Saat duduk termenung di teras rumah, aku pun kembali mendapat pertanyaan dari sang istri soal target pengumpulan minyak jelantah untuk lomba yang digelar PT Chandra Asri itu. “Sudah terkumpul berapa banyak jadi totalnya? targetnya mengumpulkan berapa banyak minyak jelantah?,” tanya istriku.
Aku kemudian menceritakan soal ada sekira tiga peserta yang telah mengumpulkan minyak jelantah berkisar 300 kg yang salah satunya aku sendiri. Termasuk soal ada peserta yang berhasil mengumpulkan 600 kg minyak jelantah.
Dan sekali lagi aku mendapat bantuan darinya, ia mengenalkanku kepada rekannya yang tinggal di Kramatwatu Griya Asri. Dari situ aku mendapat minyak jelantah sebanyak 300 kg dan pengelolanya adalah seorang ibu muda berusia kepala 3.
Tanpa sepengetahuanku, istriku juga menghubungi kakak perempuanku untuk kembali menanyakan kepada teman-temannya apakah ada minyak jelantah lain yang dikumpulkan.
Kakakku kemudian mengenalkanku kepada seorang pengelola bank sampah yang berlokasi di belakang Polsek Kramatwatu. Dari situ aku mengumpulkan minyak jelantah sebanyak 250 kg.
Kemudian, dari pengelola bank sampah itu, aku pun kemudian dikenalkan kepada rekannya yang tinggal di Kota Serang yang memiliki minyak jelantah hingga 500 kg.
Ini bukan sekedar kompetisi mengumpulkan limbah rumah tangga bagiku, lebih dari itu. Momen mengumpulkan minyak jelantah itu kembali menjadi pengingat bagiku soal peran hawa yang menopang sang adam.
Untuk perempuan-perempuan pengepul minyak jelantah yang merupakan istriku dan teman-temannya. Kakak perempuanku dan dua temannya yang berhasil mengumpukkan lebih dari 1,3 ton minyak jelantah. Kalian benar-benar perempuan hebat pendamping sang adam. (Red)








