Bantenaktual.com, Jakarta – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H, suasana di kawasan Pasar Palmerah berubah menjadi lebih hidup. Pada Selasa (17/3/2026), area ini dipenuhi aktivitas para perajin yang sibuk menganyam janur menjadi kulit ketupat.
Fenomena tahunan ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi peluang usaha musiman yang menguntungkan, khususnya bagi penjual kulit ketupat Lebaran.
Menjelang Idulfitri, permintaan kulit ketupat meningkat drastis. Para penjual bahkan rela begadang di trotoar demi memenuhi pesanan yang bisa mencapai ribuan butir per hari.

Seorang perajin berpengalaman mampu membuat satu kulit ketupat dalam waktu kurang dari 40 detik. Kecepatan ini menjadi kunci saat permintaan sedang memuncak.
“Puncaknya laku 3.000 butir dalam dua hari,” ujar salah satu penjual.
Kenaikan permintaan juga berdampak pada harga jual. Biasanya, kulit ketupat dijual sekitar:
-
Rp8.000 per 10 biji (hari biasa)
-
Rp15.000 per 10 biji (puncak Lebaran)
Lonjakan harga ini tetap diiringi tingginya minat pembeli, menjadikan janur kelapa sebagai komoditas primadona saat Lebaran.

Dalam kondisi ramai, para penjual bisa meraup omzet jutaan rupiah hanya dalam beberapa malam. Hal ini menjadikan usaha kulit ketupat sebagai sumber penghasilan tambahan yang sangat menjanjikan.
Di balik keuntungan tersebut, tersimpan kisah perjuangan para pedagang yang menjadikan lapak mereka sebagai tempat tinggal sementara, lengkap dengan perlengkapan tidur sederhana.
Para perajin membagikan beberapa tips penting dalam memilih janur:
-
Pilih daun yang panjang dan lebar
-
Pastikan janur masih segar dan lentur
-
Hindari daun yang mudah sobek
Pemilihan bahan yang tepat akan mempermudah proses anyaman sekaligus menghasilkan kulit ketupat yang kuat.

Salah satu kesalahan umum saat membuat ketupat adalah mengisi beras terlalu penuh. Padahal, cara yang benar adalah:
-
Isi beras maksimal setengah bagian dari kulit ketupat
Hal ini penting agar beras dapat mengembang dengan sempurna saat dimasak, sehingga ketupat matang merata dan tidak keras di bagian tengah. (Red)








