Bantenaktual.com, Jakarta – Pedagang timun suri di Pasar Induk Kramat Jati ramai diserbu pembeli selama Ramadan 2026. Lonjakan permintaan membuat omzet penjualan meningkat drastis, bahkan keuntungan berlipat dibanding hari biasa.
Komoditas musiman ini menjadi salah satu bahan favorit masyarakat untuk menu berbuka puasa, terutama sebagai campuran es buah dan minuman segar.
Salah seorang pedagang, Mara (50), mengaku telah hampir enam tahun rutin berjualan timun suri setiap Ramadan. Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar tiga hingga empat ton untuk memenuhi kebutuhan pasar.
“Alhamdulillah, penjualannya sangat bagus karena pembeli selalu ramai setiap hari,” ujarnya di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (28/2/2026).
Menurut Mara, timun suri yang dijualnya dipasok langsung dari wilayah Pandeglang, Banten. Harga jual berkisar antara Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram, tergantung ukuran dan kualitas buah.
Mara menjelaskan, faktor cuaca sangat memengaruhi tingkat penjualan. Saat cuaca cerah atau panas, permintaan meningkat signifikan.
Timun suri banyak diolah menjadi es buah, es campur, maupun minuman segar untuk berbuka puasa.
“Kalau cuaca sedang cerah atau panas, biasanya penjualan juga semakin meningkat karena timun suri biasa dibuat menjadi es atau minuman segar,” terangnya.
Berjualan timun suri menjadi strategi musiman yang dinilai menguntungkan saat Ramadan. Selama periode tersebut, Mara menghentikan sementara aktivitas jual beli sayur-mayur yang biasa dilakukannya.
“Selama berjualan timun suri, aktivitas jualan sayurnya dihentikan sementara,” ungkapnya.
Langkah ini diambil karena pangsa pasar timun suri dinilai sangat potensial selama bulan puasa.
Sementara itu, pembeli bernama Fariha (52) mengaku rutin berbelanja timun suri di Pasar Induk Kramat Jati untuk dijual kembali di Pasar Lontar, Kelurahan Lagoa, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Ia menyebut harga di tingkat grosir relatif murah sehingga masih memberikan margin keuntungan saat dijual kembali.
“Setiap hari saya berbelanja di sini karena harganya relatif murah untuk dijual kembali. Saya biasa jual lagi Rp10 ribu sampai Rp12 ribu. Alhamdulillah, masih bisa dapat untung,” tandasnya.
Dengan harga eceran tersebut, pedagang pengecer bisa memperoleh keuntungan hampir dua kali lipat dari harga beli.
Ramainya aktivitas jual beli di sentra perdagangan ini menjadi berkah tersendiri bagi pedagang musiman. Fenomena ini juga menunjukkan tingginya permintaan bahan pangan khas Ramadan di Jakarta.
Timun suri pun kembali menjadi primadona setiap bulan puasa, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan menu berbuka yang segar dan menyegarkan. (Red)








